Kalender Jawa




Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya dan yang mendapat pengaruhnya. Penanggalan ini memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang merupakan bagian budaya Barat.

Kalender Jawa menunjukkan perputaran hidup antara manusia dimana hidup itu diciptakan oleh Gusti, pencipta Jagat Raya, Tuhan Yang Maha Kuasa .

Berikut akan bahas sistem penanggalan dalam kalender Jawa .

Siklus Hari Dalam Penanggalan Jawa

Dalam budaya Jawa, sistem siklus hari ada beragam. Jaman dahulu orang Jawa kuno mengenal 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya satu hari, hingga Seminggu yang jumlah harinya terdapat 10 hari. Nama macam-macam minggu tersebut adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara.

Pekan yang teridi dari lima hari ini dsebut pasar oleh orang jawa dan terdiri dari hari :

Hari Pasaran Lima

Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan :
  • Kliwon (Asih) melambangkan jumeneng atau berdiri
  • Legi (Manis) melambangkan mungkur atau berbalik arah kebelakang.
  • Pahing (Pahit) melambangkan madep atau menghadap.
  • Pon (Petak) melambangkan sare atau tidur.
  • Wage (Cemeng) melambangkan lenggah atau duduk.

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari bertemu.

Untuk lebih jelasnya perhatikan perumusan tata penanggalan Jawa sebagai berikut :
  • Perhitungan hari dengan siklus 5 harian disebut sebagai Pancawara – Pasaran .
  • Perhitungan hari dengan siklus 6 harian disebut Sadwara – Paringkelan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 7 harian disebut Saptawara – Padinan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 8 harian disebut Hastawara – Padewan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 9 harian disebut Sangawara – Padangon.
  • Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu disebut Wuku.

Hari

Orang Jawa percaya bahwa hitungan 7 hari dalam seminggu bermula ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam 7 tahap. Dimana tahap pertama diawali hari Radite (Minggu).

  • Pertama,Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI.
  • Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia.Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN.
  • Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API.
  • Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI.
  • Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN.
  • Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG.
  • Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi kasar sebagai dasar pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR.

Perlu di mengerti bahwa penyebutan elemen ini hanyalah sebagai simbol dan bukan merupakanmerupakan urutan kejadian alam semesta itu sendiri. Simbol inilah yang nantinya digunakan dalam mengenali karakter hari.

Elemen hari

  • Minggu : Aditya = Planet Matahari
  • Senin : Soma = Planet Bulan
  • Selasa : Anggara = Planet Mars
  • Rabu : Budha = Planet Merkurius
  • Kamis : Respati = Planet Jupiter
  • Jumat : Sukra = Planet Venus
  • Sabtu : Saniskara = Planet Saturnus

Hari Tujuh (Dino Pitu)

Nama hari ini dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi adalah nama dari ke tujuh tersebut yaitu :
  • Radite (Minggu) melambangkan meneng atau diam.
  • Soma (Senin) melambangkan maju.
  • Hanggara (Selasa) melambangkan mundur.
  • Budha (Rabu) melambangkan mangiwa atau bergerak ke kiri.
  • Respati (Kamis) melambangkan manengen atau bergerak ke kanan.
  • Sukra (Jumat), melambangkan munggah atau naik ke atas.
  • Tumpak (Sabtu) melambangkan temurun atau bergerak turun.

Penanggalan Bulan

  • Tanggal pertama tiap bulan Jawa, bulan kelihatan sangat kecil-hanya seperti garis, ini dimaknakan dengan seorang bayi yang baru lahir, yang lama-kelamaan menjadi lebih besar dan lebih terang.
  • Tanggal 14 bulan Jawa dinamakan purnama sidhi, bulan penuh melambangkan dewasa yang telah bersuami istri.
  • Tanggal 15 bulan Jawa dinamakan purnama, bulan masih penuh tapi sudah ada tanda ukuran dan cahayanya sedikit berkurang.
  • Tanggal 20 bulan Jawa dinamakan panglong, orang sudah mulai kehilangan daya ingatannya.
  • Tanggal 25 bulan Jawa dinamakan sumurup, orang sudah mulai diurus hidupnya oleh orang lain kembali seperti bayi layaknya.
  • Tanggal 26 bulan Jawa dinamakan manjing, dimana hidup manusia kembali ketempat asalnya menjadi teja lagi.


Sisa hari sebanyak empat atau lima hari melambangkan saat dimana Teja akan mulai dilahirkan kembali kekehidupan dunia yang baru. Proses perputaran hidup ini dinamakan cakramanggilingan atau juga disebut herucakra. Manusia yang berbudi baik selalu mengikuti jalan yang diperkenankan oleh Yang Kuasa orang tersebut akan dituntun mengetahui sangkan paraning dumadi .

Demikian sistem penanggalan kalender Jawa selesai dibahas.
Semoga bermanfaat .

sumber: mbahgila.co

0 Response to "Kalender Jawa"

Post a Comment